Magnesium merupakan mineral yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan ini, Magnesium sering dikaitkan dengan gangguan tidur dan pola tidur.
Magnesium merupakan mineral yang memiliki berbagai fungsi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari. Belakangan ini, Magnesium sering dikaitkan dengan gangguan tidur dan pola tidur.

Magnesium adalah jenis mineral yang dihasilkan tubuh secara alami dan lebih banyak berada pada tulang dan sisanya di jaringan lunak.
Serum darah pun mengandung magnesium meskipun dalam jumlah yang sedikit. Umumnya, tubuh orang dewasa memiliki sekitar 25 gram magnesium.
Selain dihasilkan tubuh, magnesium bisa didapat dari makanan, suplemen, hingga obat-obatan.
Fungsi Magnesium di dalam tubuh adalah sebagai mineral esensial yang dibutuhkan tubuh untuk menjalankan berbagai fungsi penting. Mineral ini berperan sebagai kofaktor dalam ratusan reaksi enzim di dalam tubuh, termasuk proses pembentukan energi, sintesis protein, serta pembentukan DNA dan RNA.
Magnesium juga membantu menjaga fungsi saraf dan otot. Mineral ini terlibat dalam perpindahan ion kalsium dan kalium melalui membran sel, yang penting untuk penghantaran impuls saraf, kontraksi otot, dan menjaga irama jantung tetap normal.
Selain itu, magnesium ikut berperan dalam pengaturan kadar gula darah dan tekanan darah serta mendukung pembentukan dan pemeliharaan tulang.
Secara umum, beberapa fungsi utama magnesium dalam tubuh meliputi:
Karena perannya cukup luas, magnesium cukup penting untuk mendukung fungsi tubuh sehari-hari. Namun, manfaat magnesium terhadap kondisi kesehatan tertentu dapat berbeda-beda dan tidak berarti bahwa mengonsumsi suplemen magnesium selalu diperlukan.

Memenuhi kebutuhan gizi magnesium diperlukan untuk menghasilkan energi. Upayakan kebutuhan magnesium dari makanan melalui pola makan bergizi seimbang. Ingat, manfaat tambahan dari suplemen magnesium dapat berbeda tergantung kondisi dan kecukupan magnesium seseorang.
Berikut adalah beberapa manfaat magnesium lainnya yang perlu Anda ketahui:
Magnesium merupakan salah satu mineral yang berperan dalam pembentukan dan pemeliharaan tulang. Mineral ini ikut memengaruhi aktivitas sel pembentuk dan perombak tulang serta berhubungan dengan metabolisme kalsium, hormon paratiroid, dan vitamin D.
Sejumlah penelitian menemukan bahwa asupan magnesium yang lebih tinggi berkaitan dengan kepadatan mineral tulang yang lebih baik. Namun, masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memastikan apakah suplemen magnesium secara langsung dapat mencegah atau membantu mengatasi osteoporosis.
Magnesium berperan dalam produksi energi, penghantaran sinyal saraf, serta kontraksi dan relaksasi otot. Oleh karena itu, mencukupi kebutuhan magnesium penting untuk mendukung fungsi otot saat beraktivitas maupun berolahraga.
Peran ini yang membuat Magnesium disebut bermanfaat untuk meningkatkan performa saat latihan atau berolahraga dan pemulihan setelahnya.
Memang, beberapa penelitian menunjukkan bahwa suplementasi magnesium berpotensi membantu mengurangi nyeri atau pegal otot setelah aktivitas fisik.
Namun, tinjauan sistematis tahun 2024 hanya menemukan empat penelitian yang memenuhi kriteria sehingga bukti mengenai manfaat magnesium untuk pemulihan dan performa olahraga masih terbatas.
Jika asupan magnesium Anda sudah mencukupi, mengonsumsi suplemen tambahan juga belum tentu meningkatkan performa olahraga.
Magnesium membantu mengatur perpindahan kalsium dan kalium melalui membran sel. Proses ini penting untuk penghantaran impuls saraf, kontraksi otot, dan menjaga irama jantung tetap normal.
Magnesium juga telah diteliti kaitannya dengan tekanan darah. Hasil sejumlah uji klinis menunjukkan bahwa suplementasi magnesium dapat menurunkan tekanan darah dalam jumlah kecil, tetapi efeknya tidak cukup besar untuk menjadikan suplemen magnesium sebagai pengganti obat atau penanganan hipertensi.
Magnesium berperan dalam metabolisme glukosa dan kerja insulin. Orang dengan diabetes tipe 2 juga dapat kehilangan lebih banyak magnesium melalui urine sehingga berisiko mengalami kadar magnesium yang rendah.
Meski demikian, mengonsumsi suplemen magnesium tidak otomatis membantu mengontrol diabetes. American Diabetes Association dalam Standards of Care in Diabetes 2026 tidak merekomendasikan suplementasi mikronutrien, termasuk magnesium, untuk mendapatkan manfaat terhadap kontrol gula darah jika tidak terdapat kekurangan zat gizi tersebut.
Jadi, pemenuhan kebutuhan magnesium tetap penting, tetapi pengelolaan diabetes perlu mengikuti pola makan, aktivitas fisik, obat, dan anjuran dokter.
Beberapa orang yang mengalami migrain diketahui memiliki kadar magnesium yang lebih rendah dalam darah atau jaringan tubuh. Sejumlah penelitian kecil juga menemukan bahwa suplementasi magnesium dapat membantu mengurangi frekuensi migrain pada sebagian orang.
Namun, bukti mengenai manfaat ini masih terbatas dan dosis magnesium yang digunakan dalam penelitian migrain dapat lebih tinggi daripada batas konsumsi suplemen harian yang direkomendasikan. Karena itu, penggunaan magnesium untuk mencegah migrain sebaiknya dilakukan dengan arahan dokter.
Magnesium berperan dalam fungsi normal sistem saraf sehingga kaitannya dengan suasana hati dan depresi juga banyak diteliti.
Sebuah tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap tujuh uji klinis dengan total 325 orang dewasa dengan gangguan depresi menemukan bahwa suplementasi magnesium berkaitan dengan penurunan skor depresi. Namun, jumlah penelitian dan pesertanya masih terbatas sehingga diperlukan uji klinis yang lebih besar untuk memastikan manfaatnya.
Magnesium bukan pengganti terapi depresi. Jika Anda mengalami perasaan sedih, kehilangan minat, atau gejala depresi lainnya secara terus-menerus, sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Sebagai tahap awal, anda juga bisa mencoba alat deteksi dini depresi dari Hello Sehat.
Magnesium tidak secara langsung membuat tubuh menyerap semua vitamin dan mineral dengan lebih baik. Namun, mineral ini berperan sebagai kofaktor dalam berbagai reaksi enzim, termasuk proses yang berkaitan dengan metabolisme vitamin D.
Penelitian menunjukkan bahwa status magnesium dapat memengaruhi bagaimana vitamin D dimetabolisme di dalam tubuh. Magnesium juga berperan dalam perpindahan kalsium dan kalium melalui membran sel sehingga membantu menjaga fungsi saraf, otot, dan keseimbangan mineral tubuh.
Hal itu menunjukkan bahwa vitamin dan mineral tidak bekerja secara terpisah. Pola makan bergizi seimbang tetap diperlukan untuk membantu memenuhi berbagai kebutuhan zat gizi tubuh.
Magnesium juga telah diteliti untuk membantu mengurangi beberapa keluhan yang muncul menjelang menstruasi atau premenstrual syndrome (PMS).
Menurut American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG), suplemen magnesium mungkin membantu mengurangi keluhan seperti retensi cairan atau perut kembung, nyeri payudara, dan beberapa gejala terkait suasana hati. Namun, manfaatnya tidak selalu sama pada setiap orang dan bukti untuk sejumlah gejala PMS masih terbatas.
Jika gejala PMS cukup berat hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, konsultasikan dengan dokter sebelum mengandalkan suplemen untuk mengatasinya.
Magnesium berperan dalam fungsi sistem saraf sehingga mineral ini sering dikaitkan dengan tidur. Sejumlah penelitian memang menemukan kemungkinan hubungan antara suplementasi magnesium dan perbaikan kualitas tidur.
Tinjauan sistematis tahun 2024 menemukan bahwa lima dari delapan penelitian melaporkan perbaikan pada setidaknya satu aspek tidur. Namun, hasil penelitian belum konsisten karena jumlah peserta relatif kecil serta jenis, dosis, dan durasi suplementasi yang berbeda-beda.
Artinya, magnesium mungkin membantu kualitas tidur pada sebagian orang, terutama bila asupan atau status magnesiumnya rendah, tetapi suplemen magnesium belum dapat dianggap sebagai pengobatan utama untuk insomnia. Jika sulit tidur terjadi terus-menerus, penyebab lain seperti kebiasaan tidur, stres, konsumsi kafein, obat, atau kondisi kesehatan tertentu juga perlu dipertimbangkan.
Kebutuhan magnesium tentu akan berbeda pada setiap orang, tergantung kondisi tubuh dan usia. Sebagai contoh, bila Anda mengalami suatu infeksi, kemungkinan besar tubuh memerlukan magnesium lebih banyak.
Berikut angka kebutuhan rata-rata magnesium per hari, sesuai anjuran Kementerian Kesehatan RI guna memaksimalkan manfaat magnesium.

Selain suplemen, Anda bisa mendapatkan manfaat magnesium dari berbagai makanan, meliputi:
| Makanan | Porsi | Kandungan magnesium* | Catatan praktis |
|---|---|---|---|
| Bayam matang | ½ cangkir | 78 mg | Bisa ditambahkan sebagai sayur pendamping dalam menu harian. |
| Biji chia | 28 gram | 111 mg | Dapat ditambahkan ke oatmeal, yoghurt, atau minuman. |
| Kentang panggang dengan kulit | ±100 gram | 43 mg | Mengonsumsi kentang bersama kulitnya dapat mempertahankan lebih banyak zat gizi. |
| Cokelat hitam 70–85% kakao | 28 gram | ±65 mg | Pilih dalam porsi secukupnya karena cokelat tetap mengandung kalori dan lemak. |
| Susu kedelai | 1 cangkir | 61 mg | Dapat menjadi salah satu alternatif sumber magnesium dari minuman berbasis kedelai. |
| Kacang-kacangan dan biji-bijian | Bervariasi | Bervariasi | Kandungannya cukup beragam. Contohnya, 28 gram biji labu panggang mengandung sekitar 156 mg, sedangkan ½ cangkir kacang hitam matang mengandung sekitar 60 mg. |
| Halibut matang | 85 gram | 24 mg | Salah satu pilihan sumber magnesium dari ikan. |
| Kacang almon | 28 gram | 80 mg | Praktis dikonsumsi sebagai camilan atau tambahan pada makanan. |
| Ikan kembung | ±85 gram | sekitar 80 mg | Selain magnesium, ikan kembung juga dikenal sebagai sumber protein dan asam lemak omega-3. |
| Ikan salmon matang | 85 gram | 26 mg | Bisa menjadi salah satu sumber magnesium sekaligus protein dalam menu utama. |
| Buah alpukat | ½ cangkir potongan | 22 mg | Mudah dikombinasikan dengan makanan utama maupun camilan. |
*) Catatan: Jumlah magnesium dapat berbeda tergantung jenis bahan pangan, varietas, ukuran porsi, serta cara pengolahannya. Sebagian besar nilai pada tabel mengacu pada NIH Office of Dietary Supplements, yang menggunakan data komposisi pangan USDA
Tidak semua orang perlu mengonsumsi suplemen magnesium. Pada dasarnya, kebutuhan magnesium sebaiknya dipenuhi terlebih dahulu melalui pola makan bergizi seimbang, misalnya dari sayuran hijau, kacang-kacangan, biji-bijian, gandum utuh, dan produk susu.
Suplemen dapat dipertimbangkan ketika asupan dari makanan tidak mencukupi atau terdapat kondisi tertentu yang meningkatkan risiko kekurangan magnesium.
Beberapa kelompok diketahui lebih berisiko mengalami asupan atau kadar magnesium yang rendah, di antaranya orang dengan gangguan saluran pencernaan seperti penyakit Crohn atau penyakit celiac, penderita diabetes tipe 2, orang dengan konsumsi alkohol berlebihan dalam jangka panjang, serta lansia.
Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang juga dapat memengaruhi kadar magnesium di dalam tubuh.
Meski demikian, merasa mudah lelah, mengalami kram otot, atau sulit tidur tidak otomatis berarti tubuh kekurangan magnesium. Berbagai keluhan tersebut dapat disebabkan oleh banyak kondisi lain sehingga penggunaan suplemen sebaiknya tidak dijadikan pengganti pemeriksaan atau penanganan medis bila keluhan menetap.
Jika Anda ingin mengonsumsi suplemen magnesium, beberapa hal berikut perlu dipertimbangkan.
Jika suplemen memang diperlukan, jenis magnesium yang dipilih dapat disesuaikan dengan kebutuhan, kondisi kesehatan, serta rekomendasi dokter atau tenaga kesehatan.
Selanjutnya, Anda dapat mengenali berbagai jenis magnesium dan perbedaannya untuk memahami karakteristik masing-masing bentuk suplemen.
Magnesium dalam suplemen maupun obat tersedia dalam berbagai bentuk senyawa, seperti magnesium glycinate, citrate, oxide, chloride, hingga sulfate. Perbedaannya tidak hanya terletak pada nama. Setiap bentuk dapat memiliki tingkat kelarutan, penyerapan, jumlah magnesium elemental, serta penggunaan yang berbeda.
Menurut National Institutes of Health (NIH), bentuk magnesium yang lebih mudah larut umumnya lebih mudah diserap di saluran pencernaan. Magnesium citrate, chloride, lactate, dan aspartate termasuk bentuk yang cenderung memiliki bioavailabilitas lebih tinggi dibandingkan magnesium oxide dan magnesium sulfate.
Namun, kemampuan tubuh menyerap magnesium juga dipengaruhi oleh dosis, kondisi tubuh, pola makan, dan formulasi produknya.
Berikut beberapa jenis magnesium yang umum ditemui.
| Jenis magnesium | Apa yang perlu diketahui? |
|---|---|
| Magnesium glycinate atau bisglycinate | Magnesium yang terikat dengan asam amino glisin dan banyak ditemukan dalam produk suplemen. Bentuk ini semakin populer, termasuk untuk kebutuhan terkait tidur dan wellness. Namun, bukti yang membandingkan keunggulannya dengan semua bentuk magnesium lainnya masih terbatas sehingga tidak tepat menganggapnya sebagai bentuk yang selalu paling baik untuk setiap orang. |
| Magnesium citrate | Magnesium yang terikat dengan asam sitrat. Sejumlah penelitian menunjukkan magnesium citrate lebih mudah diserap dibandingkan magnesium oxide. |
| Magnesium oxide | Banyak digunakan dalam suplemen dan juga beberapa jenis obat. Dibandingkan magnesium citrate atau chloride, penyerapannya cenderung lebih rendah. Magnesium oxide juga dapat ditemukan sebagai bahan antasida dan laksatif. |
| Magnesium chloride | Termasuk salah satu bentuk magnesium yang relatif mudah larut dan diserap tubuh. NIH memasukkannya bersama citrate, lactate, dan aspartate sebagai bentuk yang cenderung memiliki bioavailabilitas lebih baik. |
| Magnesium sulfate | Lebih banyak digunakan dalam konteks medis tertentu dibandingkan sebagai suplemen harian biasa. Dalam bentuk injeksi, magnesium sulfate dapat digunakan untuk menangani kekurangan magnesium tertentu serta untuk pencegahan dan pengendalian kejang pada preeklampsia atau eklampsia dengan pengawasan tenaga medis. |
| Magnesium hydroxide | Lebih dikenal sebagai bahan obat daripada sebagai suplemen magnesium rutin. Magnesium hydroxide dapat digunakan sebagai laksatif untuk mengatasi sembelit jangka pendek dan sebagai antasida pada produk tertentu. |
| Magnesium carbonate | Salah satu bentuk senyawa magnesium yang dapat ditemukan dalam berbagai sediaan. Karakteristik penyerapan dapat berbeda dari bentuk magnesium lainnya sehingga penggunaannya sebaiknya disesuaikan dengan tujuan dan jenis produk. |
Perlu diketahui, jumlah senyawa magnesium pada kemasan tidak sama dengan jumlah magnesium elemental yang diterima tubuh. Pada label suplemen, jumlah magnesium biasanya mengacu pada kandungan magnesium elemental, bukan berat keseluruhan senyawa magnesium. Oleh karena itu, jangan menentukan dosis hanya berdasarkan nama atau jenis magnesiumnya.
Tidak ada satu jenis magnesium yang otomatis menjadi pilihan terbaik untuk semua orang. Pemilihannya perlu mempertimbangkan tujuan penggunaan, jumlah magnesium yang dibutuhkan, toleransi tubuh, obat atau suplemen lain yang sedang dikonsumsi, serta kondisi kesehatan tertentu.
Kebutuhan dan alasan seseorang memperhatikan asupan magnesium dapat berbeda-beda. Ada yang tertarik karena kualitas tidur, aktivitas fisik, usia, maupun sedang mempertimbangkan penggunaan suplemen.
Magnesium berperan dalam fungsi normal sistem saraf sehingga mineral ini cukup sering dikaitkan dengan kualitas tidur. Sejumlah penelitian menunjukkan suplementasi magnesium berpotensi membantu beberapa aspek tidur, terutama pada orang yang memiliki kadar magnesium rendah. Namun, hasil penelitian sejauh ini belum sepenuhnya konsisten.
Tinjauan sistematis tahun 2024 menemukan bahwa lima dari delapan penelitian terkait tidur melaporkan perbaikan pada setidaknya satu parameter tidur setelah suplementasi magnesium. Meski begitu, jumlah peserta relatif kecil dan terdapat perbedaan dosis, jenis magnesium, serta durasi penggunaan antar penelitian, sehingga belum dapat dipastikan bahwa suplemen magnesium akan memperbaiki kualitas tidur pada setiap orang.
Oleh karena itu, jika Anda sering sulit tidur, jangan langsung menganggap kondisi tersebut disebabkan oleh kekurangan magnesium. Kebiasaan tidur, stres, konsumsi kafein, penggunaan obat, hingga kondisi kesehatan tertentu juga bisa memengaruhi kualitas tidur.
Magnesium juga banyak dipromosikan sebagai suplemen untuk membantu menghadapi stres atau rasa cemas. Hal ini berkaitan dengan perannya dalam fungsi saraf. Akan tetapi, bukti mengenai manfaat suplementasi magnesium untuk mengurangi stres atau kecemasan masih terbatas dan belum cukup kuat untuk menjadikannya sebagai terapi utama.
Tinjauan sistematis terhadap penelitian intervensi menemukan bahwa sebagian studi menunjukkan perbaikan pada gejala kecemasan yang dilaporkan sendiri setelah suplementasi magnesium. Namun, para peneliti menekankan bahwa hasil tersebut masih sulit disimpulkan secara pasti karena ukuran studi yang kecil serta perbedaan populasi, dosis, dan bentuk magnesium yang digunakan.
Jadi, magnesium sebaiknya dipandang sebagai bagian dari pemenuhan kebutuhan nutrisi, bukan sebagai pengganti penanganan stres. Bila stres atau kecemasan berlangsung terus-menerus hingga mengganggu aktivitas, tidur, atau kualitas hidup, konsultasikan dengan tenaga kesehatan.
Magnesium berperan dalam kontraksi dan relaksasi otot serta berbagai proses yang berkaitan dengan produksi energi. Karena itu, kecukupan magnesium penting bagi orang yang aktif berolahraga.
Beberapa penelitian juga mengamati kemungkinan manfaat suplementasi magnesium terhadap muscle soreness atau rasa nyeri dan pegal setelah aktivitas fisik.
Sebuah tinjauan sistematis tahun 2024 menemukan beberapa penelitian kecil yang menunjukkan penurunan nyeri otot dan perbaikan beberapa indikator pemulihan setelah suplementasi magnesium. Namun, hanya empat penelitian yang memenuhi kriteria tinjauan tersebut sehingga bukti yang tersedia masih terbatas.
Selain itu, tinjauan sistematis dan meta-analisis sebelumnya tidak menemukan peningkatan kekuatan atau performa otot yang konsisten pada atlet maupun orang aktif yang status magnesiumnya sudah mencukupi. Manfaat suplementasi kemungkinan lebih relevan bila seseorang memang mengalami kekurangan magnesium.
Jadi, pegal setelah olahraga tidak otomatis berarti Anda membutuhkan suplemen magnesium. Pemulihan tetap perlu didukung dengan istirahat yang cukup, asupan makanan bergizi, cairan yang mencukupi, dan pengaturan intensitas latihan yang tepat.
Kebutuhan magnesium berubah sesuai usia, jenis kelamin, dan tahap kehidupan. Contohnya, kebutuhan magnesium meningkat selama kehamilan karena mineral ini ikut berperan dalam berbagai proses yang mendukung pertumbuhan dan perkembangan janin. Meski demikian, saat ini tidak ada rekomendasi umum bahwa semua ibu hamil perlu mengonsumsi suplemen magnesium secara khusus.
Pada lansia, perhatian terhadap kecukupan magnesium juga semakin penting. Asupan magnesium pada kelompok usia lanjut cenderung lebih rendah, sementara kemampuan penyerapan magnesium di saluran cerna dapat berkurang dan pengeluarannya melalui ginjal dapat meningkat seiring bertambahnya usia. Lansia juga lebih sering menggunakan obat-obatan tertentu yang dapat memengaruhi kadar magnesium.
Karena itu, kebutuhan magnesium sebaiknya disesuaikan dengan usia dan kondisi masing-masing. Ibu hamil atau menyusui, lansia, serta orang dengan kondisi kesehatan tertentu sebaiknya berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum menggunakan suplemen secara rutin.
Jika kebutuhan magnesium tidak dapat tercukupi melalui makanan atau terdapat kondisi tertentu yang meningkatkan risiko kekurangan magnesium, suplemen dapat menjadi salah satu pilihan untuk membantu memenuhi kebutuhan harian.
Suplemen magnesium tersedia dalam berbagai bentuk, seperti magnesium glycinate, citrate, oxide, dan chloride. Masing-masing memiliki karakteristik dan tingkat penyerapan yang berbeda. Namun, memilih suplemen tidak cukup hanya berdasarkan jenis magnesium yang sedang populer.
Perhatikan pula jumlah magnesium elemental pada label, dosis yang dikonsumsi, obat atau suplemen lain yang digunakan, serta kondisi kesehatan Anda. Konsumsi magnesium dari suplemen dalam jumlah berlebihan dapat menyebabkan efek samping seperti diare, mual, dan kram perut, sedangkan risiko penumpukan magnesium lebih besar pada orang dengan gangguan fungsi ginjal.
Jika Anda sedang mempertimbangkan suplemen magnesium, pelajari terlebih dahulu jenis-jenis magnesium dan perbedaannya, serta konsultasikan dengan tenaga kesehatan jika memiliki penyakit tertentu atau menggunakan obat secara rutin.
Kekurangan magnesium atau hipomagnesemia terjadi ketika kadar magnesium dalam tubuh lebih rendah dari normal. Kondisi ini dapat terjadi akibat asupan magnesium yang kurang, gangguan penyerapan, kehilangan magnesium berlebihan, atau kondisi kesehatan tertentu.
Pada tahap awal, kekurangan magnesium dapat menimbulkan gejala seperti:
Pada kondisi yang lebih berat, hipomagnesemia dapat mengganggu fungsi saraf dan irama jantung sehingga perlu mendapatkan penanganan medis.
Ya, kita bisa mengalami kelebihan Magnesium. Meski demikian, terlalu banyak mengonsumsi makanan yang mengandung magnesium memang tidak menimbulkan masalah kesehatan yang serius. Karena, ginjal yang sehat akan menghilangkan kelebihan mineral melalui urine.
Kapan terjadi kelebihan Magnesium? Salah satunya adalah penggunaan suplemen magnesium dalam dosis tinggi. Kondisi hipermagnesia alias kelebihan magnesium itu akan memicu masalah pencernaan, seperti:
Pemeriksaan magnesium dilakukan untuk mengetahui kadar magnesium dalam darah. Tes ini umumnya tidak diperlukan sebagai pemeriksaan rutin pada orang sehat.
Dokter dapat menyarankan pemeriksaan magnesium bila Anda mengalami gejala atau memiliki kondisi yang berisiko menyebabkan kadar magnesium terlalu rendah atau tinggi, seperti:
Hasil pemeriksaan perlu dinilai bersama gejala, riwayat kesehatan, serta hasil tes lainnya untuk menentukan apakah diperlukan penanganan lebih lanjut.
Suplemen magnesium tersedia dalam berbagai jenis dan dosis. Oleh karena itu, penggunaannya perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan kondisi kesehatan masing-masing.
Agar lebih aman, perhatikan beberapa hal berikut.
Jika kebutuhan magnesium sudah dapat terpenuhi dari makanan sehari-hari, penggunaan suplemen tambahan belum tentu diperlukan.
Catatan
Hello Sehat tidak menyediakan saran medis, diagnosis, atau perawatan. Selalu konsultasikan dengan ahli kesehatan profesional untuk mendapatkan jawaban dan penanganan masalah kesehatan Anda.
Magnesium. (2021). National Institute of Health. Retrieved 21 May 2024, from https://ods.od.nih.gov/factsheets/Magnesium-HealthProfessional/
Sleep and Magnesium Supplements. (2016). Harvard Health. Retrieved 21 May 2024, from https://www.health.harvard.edu/sleep/ask-the-doctor-sleep-and-magnesium-supplements
Parazzini, F., Di Martino, M., & Pellegrino, P. (2017). Magnesium in the gynecological practice: a literature review. Magnesium Research, 30(1).
Chen, H. Y., Cheng, F. C., Pan, H. C., Hsu, J. C., & Wang, M. F. (2014). Magnesium enhances exercise performance via increasing glucose availability in the blood, muscle, and brain during exercise. PloS one, 9(1), e85486.
Rondanelli, M., Faliva, M. A., Tartara, A., Gasparri, C., Perna, S., Infantino, V., … & Peroni, G. (2021). An update on magnesium and bone health. Biometals, 34(4), 715-736.
Barbagallo, M., & Dominguez, L. J. (2015). Magnesium and type 2 diabetes. World Journal of Diabetes, 6(10), 1152–1157.
Tarleton, E. K., & Littenberg, B. (2015). Magnesium intake and depression in adults. Journal of the American Board of Family Medicine : JABFM, 28(2), 249–256
Minerals for Bone Health. (n.d). American Bone Health. Retrieved 21 May 2024, from https://americanbonehealth.org/nutrition/minerals-for-bone-health/
Versi Terbaru
08/09/2026
Ditulis oleh Nimas Mita Etika M
Ditinjau secara medis oleh dr. Patricia Lukas Goentoro
Diperbarui oleh: Wicak Hidayat
Ditinjau secara medis oleh
dr. Patricia Lukas Goentoro
General Practitioner · Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI)